pulsa-logo

First Impression Philips X818: Telat Hadir, Akan Sulit Bersaing?


Anwar Aburizal

Kamis, 04 Januari 2018 • 23:59


Entah apa yang menahan Philips untuk menunda peluncuran ponsel ini di tanah air. Yang jelas Philips X818 ini sudah diperkenalkan secara global sejak akhir tahun 2016 lalu. Sementara untuk pasar tanah air, lewat PT Synnex Metrodata Indonesia selaku distributor Philips X818 baru dipasarkan menjelang tahun baru 2018.

Dengan perkembangan teknologi smartphone yang begitu cepat di tengah persaingan yang semakin ketat, gerakan lambat vendor semisal ini dipastikan jadi batu penghambat keberhasilan produknya di pasaran. Lalu apakah teknologi Xenium dan SoftBlue milik Philips sanggup memberi harapan pada X818?

Desain Mewah Tapi Tidak Original

Desain X818 mengingatkan pada desain Xperia Z series yang jadi identitas produk flagship Sony tersebut sejak Xperia Z generasi pertama di tahun 2013-an. Yang PULSA maksud adalah bagian muka belakang yang sepenuhnya  didominasi oleh material kaca. Terlihat mewah memang, tapi tidak original.

Di bagian muka, ada tombol fisik home berbentuk kotak berukuran cukup besar yang juga berfungsi sebagai pemindai sidik jari. Sementara bagian atas ada earpiece yang didampingi kamera depan.

Di belakang ada hanya ada lensa kamera utama berdampingan lampu flash di sudut kiri atas, noise reduction mic di bagian tengah atas. Dan branding Philips serta identitas seri Xenium yang diletakkan terpisah.



Sekeliling body menggunakan material logam yang dihiasi loudspeaker, port micro USB Type-C, serta mic utama di bawah. Tombol power, pengatur volume suara dan switch power management ada di sisi kanan. Port audio jack 3.5mm bertengger di bagian atas, sementara di sisi kiri terdapat tray bagi 2 kartu SIM yang salah satunya memiliki fungsi ganda sebagai tray kartu microSD.

OS Tidak Up-To-Date

Sebagai ponsel kelas menengah yang rilis di akhir tahun 2016, berbekal Android Marshmallow bukan celaan bagi X818. Yang disayangkan, setelah lebih dari setahun berlalu PULSA mendapati ponsel ini masih belum mendapatkan update Android versi yang lebih anyar.

Hal ini bisa jadi pertanda bahwa ponsel ini tidak akan mendapatkan update ke Nougat, dan pengguna harus puas dengan Marshmallow selamanya. Semoga saja prasangka itu salah karena sejatinya Android Nougat masih mendukung Chipset Helio P10 yang digunakan X818 ini.

Tampilan menunya juga standar. Tidak ada modifikasi signifikan yang memberikan pengalaman baru bagi pengguna. Hanya saja semua aplikasi yang terinstal langsung tertampil di homescreen karena Philips menghilangkan app drawer pada UI yang digunakan X818 ini.

Baterai Perlu Pembuktian

Dalam kampanye pemasarannya, ponsel ini mengunggulkan sektor baterai. Bukan hanya dayanya yang lumayan besar yakni 3900 mAh, ponsel ini juga menggunakan baterai berbasis Li-Polymer dengan teknologi Xenium yang diklaim mampu memberikan tenaga bagi X818 untuk standby terus menerus selama 19 hari.

Hal ini perlu pembuktian dalam jangka waktu penggunaan yang lebih lama. Dan akan PULSA bahas pada rubrik review. Untuk rubrik first impression ini, PULSA sempat secara khusus menggunakan X818 selama 30 menit secara terus menerus untuk menonton video secara online, menjelajah aplikasi sosial media, dan melakukan pengujian dengan aplikasi benchmark. Tampak terjadi pengurangan daya baterai sebesar 7% (dari 38% menjadi 31%).

Untuk mendukung baterainya, X818 dibekali aplikasi Power Center untuk membantu pengguna dalam manajemen daya. Aplikasi ini memiliki fitur power saver atau penghemat daya yang bisa diaktifkan secara mudah lewat switch yang ada di atas tombol pengatur volume suara di sisi kanan ponsel.

Anehnya, tidak ada perubahan pada estimasi sisa waktu aktif saat fitur power saver diaktifkan maupun saat di non-aktifkan.

Layar Berteknologi SoftBlue

Selain baterai, Philips juga mengandalkan sektor layar. Bukan karena bezel-less atau memiliki ratio 18:9 yang kekinian, tapi karena layar ponsel ini diklaim lebih ramah terhadap mata pengguna. X818 mengadopsi teknologi SoftBlue yang sebelumnya sudah digunakan pada monitor besutan Philips.

Teknologi SoftBlue ini membantu mengurangi efek radiasi sinar biru yang jadi penyebab utama mata menjadi lelah saat memandang layar monitor atau ponsel terlalu lama. Teknologi ini hadir lewat fitur BluLight Defender yang bisa diakses pada menu Miravision pada pengaturan Display.

Sebagai konsekuensi pengurangan sinar biru, tampilan layar menjadi agak ke-jingga-an saat BluLight Defender dimaksimalkan.

Performa Tak Sesuai Harga

Menggunakan chipset Helio P10 yang didukung dengan RAM sebesar 3GB. Performa ponsel ini tidak sesuai dengan rentang harganya. Saat diuji menggunakan aplikasi Antutu Benchmark versi 6.2.7 ponsel ini mencatat skor 50879.

Nilai tersebut jelas inferior jika dibandingkan dengan yang didapatkan Xiaomi Mi A1 dan Moto G5S Plus yang mencatat skor sekitar 62 ribuan. Padahal keduanya juga menghuni rentang harga 3–3,2 jutaan. Belum lagi jika kita membahas tentang kamera ponsel ini yang juga kalah dari segi gimmick “dual-cam” yang tidak dimilikinya.

Meski begitu tidak ada perlambatan atau lag yang mengganggu pengalaman penggunaan, selama perkenalan singkat PULSA dengan ponsel ini.

Itu dia kesan PULSA tentang perkenalan singkat beberapa jam bersama Philips X818. Untuk ulasan yang lebih mendalam tentang Philips X818 ini, jangan lupa untuk terus memantau tabloidpulsa.co.id.

Spesifikasi:

OS Android (6.0) Marshmallow
Dimensi 153.5 x 76 x 6.95 mm
Bobot 168 gr
Layar IPS LCD; 5.5 inci;  1080p; 401 ppi
Kamera 16 MP & Flash (Belakang); 8 MP (Depan)
Chipset MediaTek MT6755 (Helio P10)
Prosesor Octa-Core 2.0Ghz
RAM 3GB
Internal Storage 32 GB
External Storage microSD Up-To 128GB
Baterai Li-Ion 3900 mAh
Konektifitas Dual SIM – Dual Standby; GSM, HSDPA, LTE; Speed: HSPA Plus 42/11 Mbps, LTE Cat6 300/50 Mbps; Wi-Fi 802.11 b/g/n, Hotspot; Bluetooth v4.1 with A2DP; USB Type-C; GPS